Oleh : Majid Lintang
Di sebidang tanah berbatu di pinggir Bandarlampung, seorang lelaki berambut putih memilih menua bersama tanaman. Ia tidak sedang membangun taman. Ia sedang merawat gagasan tentang masa depan pertanian Lampung.
Rambutnya telah lama memutih seluruhnya. Namun langkahnya masih cepat, tegap, dan nyaris tergesa. Tubuh tinggi besar itu bergerak dari bedengan ke bedengan, dari bibit ke kompos, dari satu rumpun tanaman ke rumpun lain.
Di bawah matahari Lampung yang keras, Syamsurrizal Mukhtar tampak seperti orang yang belum selesai dengan pekerjaannya.
Usianya telah melewati setengah abad.
Tetapi bagi banyak orang yang mengenalnya, ia tetap “Kak Ijal”—aktivis pencinta alam, pekerja sosial, pengelana lapangan, dan orang yang selalu percaya bahwa tanah, jika diperlakukan dengan benar, akan membalas dengan kehidupan.
Lelaki kelahiran Gunung Dempo, Pagar Alam, Sumatera Selatan, tahun 1957 itu bukan nama baru di dunia gerakan lingkungan Lampung.
Separuh lebih hidupnya dihabiskan di alam terbuka dan tengah masyarakat.
Ia pernah memimpin Watala, organisasi mahasiswa pencinta alam Universitas Lampung, pada awal 1980-an.
Setelah itu, jejaknya tersebar di banyak tempat: lembaga swadaya masyarakat, program konservasi, pengembangan masyarakat, hingga kawasan penyangga hutan.
Namun pada masa ketika banyak orang seusianya mulai mencari kenyamanan, Syamsurrizal justru memilih tantangan baru: membangun Horti Park Lampung.
Tanah Berbatu, Mimpi yang Keras Kepala
Lokasinya di Desa Sabah Balau, Lampung Selatan, tak jauh dari kawasan Sukarame, Bandarlampung. Lahan seluas 7,72 hektare itu mula-mula bukan tempat yang menjanjikan.
Batu berserakan. Unsur hara minim. Tanah keras. Banyak orang mungkin hanya melihat sebidang lahan yang sulit ditanami.
Syamsurrizal melihat kemungkinan.
Sejak akhir 2014, ia bersama tim kecil mulai mengolah lahan itu. Tanpa banyak seremoni, tanpa dana operasional yang longgar, mereka mencangkul, membuat bedengan, mengangkut pupuk kandang, menebar mulsa, meracik pestisida alami, lalu mencoba menanam.
Sebagian gagal.
Ia tak menyebutnya kegagalan. “Sukses yang tertunda,” begitu kira-kira cara berpikirnya.
Kalimat sederhana itu menjelaskan banyak hal: lelaki ini bukan tipe yang mudah mundur.
Dari Buruh Lepas Menjadi Penjaga Kebun
Tim yang bekerja bersamanya bukan kumpulan tenaga profesional pertanian modern. Sebagian berasal dari buruh lepas perkebunan yang terbiasa bekerja berdasarkan instruksi harian. Di Horti Park, pola itu harus diubah.
Mereka diminta menjadi pengelola sekaligus pekerja. Setiap orang bertanggung jawab atas lahannya sendiri: mulai dari mengolah tanah, menanam, merawat, hingga memanen.
Bagi Syamsurrizal, perubahan terbesar bukan pada lahan, melainkan pada cara berpikir manusia yang mengerjakannya.
“Saya setahun mengubah cara berpikir tim,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar singkat, tetapi memuat pekerjaan yang jauh lebih berat daripada memindahkan batu.
Kebun yang Mengajarkan Banyak Hal
Hari ini, Horti Park bukan lagi hamparan tanah keras. Ia menjelma ruang hijau yang hidup. Ada buah-buahan, sayur-mayur, bunga, dan tanaman obat. Ada jalur jalan kaki, rumah bayang, bangsal panen, ruang penyimpanan, dan sudut-sudut belajar.
Mahasiswa datang untuk praktik lapangan. Pelajar berkunjung untuk mengenal tanaman. Warga menikmati pengalaman memetik hasil kebun secara langsung.
Tempat itu tidak dirancang semata untuk menjual hasil panen. Ia dirancang untuk menghubungkan manusia dengan proses tumbuh.
Di zaman ketika makanan datang dalam plastik dan rak pendingin, Horti Park mengingatkan bahwa sebutir tomat punya sejarah panjang: tanah, air, panas matahari, tangan petani, dan kesabaran.
Menolak Logika Untung Cepat
Syamsurrizal paham betul soal hitung-hitungan ekonomi. Ia tahu, jika tujuan hanya laba, lahan seluas itu bisa ditanami komoditas tunggal yang sedang laku di pasar: singkong, jagung, atau tanaman musiman lain.
Tetapi ia menolak jalan pintas itu.
Baginya, kebun ini harus memelihara keanekaragaman. Ada fungsi pendidikan, penelitian, konservasi benih, wisata, pemberdayaan masyarakat, hingga pemasaran hasil tani.
Di tengah dunia yang mengukur segala sesuatu dengan keuntungan tercepat, ia memilih manfaat jangka panjang.
Itulah jenis keputusan yang sering tampak tidak populer pada awalnya, tetapi penting bagi masa depan.
Pedagang dengan Motor Roda Tiga
Kebutuhan operasional tetap harus dipenuhi. Maka Syamsurrizal tak segan turun menjual hasil panen sendiri. Dengan motor roda tiga, ia membawa sayuran dan buah ke berbagai titik: Lapangan Korpri, kantor dinas, pasar tani.
Pemandangan itu mungkin terasa ganjil bagi sebagian orang: seorang tokoh senior lingkungan, sarjana pertanian, pernah bekerja di banyak lembaga besar, kini berjualan hasil kebun sendiri.
Tetapi justru di situlah letak konsistensinya. Ia tidak terlalu sibuk menjaga gengsi.
Ia tahu, idealisme yang tidak mau berkotor-kotor tangan biasanya hanya berakhir sebagai pidato.
Sembilan Mimpi
Syamsurrizal menyebut Horti Park memiliki banyak misi: kebun percontohan, budidaya ramah lingkungan, penangkaran benih unggul, pemberdayaan kelembagaan, pasar tani, pendidikan, penelitian, wisata, dan pelestarian lingkungan.
Bagi orang lain, daftar itu mungkin terdengar ambisius.
Bagi dirinya, itu sekadar pekerjaan rumah.
Ia bahkan membuka ruang bagi siapa saja yang ingin ikut menanam, menjadi orang tua asuh pohon buah, atau terlibat dalam pengembangan kebun.
Karena ia paham satu hal: gagasan besar tidak bisa ditanggung sendirian.
Orang-Orang yang Masih Dibutuhkan Negeri Ini
Ada jenis manusia yang bekerja bukan untuk sorotan, bukan pula untuk jabatan. Mereka lebih suka terlihat sibuk di lapangan ketimbang hadir di panggung.
Syamsurrizal Mukhtar tampaknya termasuk golongan itu.
Di saat banyak orang mengejar kekuasaan, ia memilih menanam cabai. Ketika yang lain sibuk membangun citra, ia membangun kompos. Saat orang ramai memperdebatkan kesejahteraan petani dari ruang berpendingin udara, ia menjajakan hasil kebun dengan motor roda tiga.
Mungkin negeri ini memang masih membutuhkan lebih banyak orang seperti dirinya: yang percaya keberhasilan bukan semata soal harta atau kuasa, melainkan seberapa langsung manfaat yang bisa dirasakan orang lain.
Di Horti Park Lampung, seorang lelaki berambut putih sedang membuktikan itu—setiap hari, diam-diam, dari akar ke daun.***
#taniituindah