Minggu, 03 Mei 2026

BLK TANI

Balai Latihan Kerja Pertanian Terpadu



Beranjak dari krisis regenerasi petani, dan minimnya tamatan SMK dan Politeknik Pertanian yang kembali ke desa dan menjadi seorang petani, sementara itu ada banyak petani muda tamatan SMP yang seribu persen berharap menjadi petani muda yang berkemampuan / professional dan tangguh.


 :: aku punya Cita-cita membangun dan mendirikan BLK Pertanian Terpadu, yaitu suatu wahana pendidikan atau Balai Latihan Kerja Pertanian yang Terpadu ; tanaman pangan, hortikultura, perikanan, peternakan, dan agroforestry.


:: adakah dan dimana ? pendidikan luar sekolah atau BLK Pertanian Terpadu bagi insan pemuda yang benar-benar berkeinginan teguh menjadi petani mandiri di lahan sempit.  atau dengan pertanyaan lain ; dimana tempat belajar bersama yang intensif dan terstruktur tentang pertanian terpadu bagi remaja atau petani muda mandiri, yang karena keterbatasan ijazah dan seleksi tidak berkesempatan masuk SMK dan Politeknik Pertanian.


Siapa yg "membekali" para anak muda yang berkesungguhan ingin menjadi petani yang professional, di luar pendidikan formal, sehingga mereka bangga atas pilihan menjadi petani muda mandiri, yang memahami Filosofi Tani dan etos kerja tani, tangguh dan terampil, berteknologi pertanian (smart farming), serta berkemampuan teknologi informasi 


#taniituindah

:: BLK Tani ini harus ada asrama dan pesertanya merupakan utusan Kelompok-kelompok Tani (recommended), serta dibatasi hanya  30 orang (seumuran SMP) pertahun untuk belajar dan praktik bertani di lahan sempit.  Pagi-siang kerja Tani dan malam belajar bersama dengan dukungan teknologi informasi.
Semua gratis ! duitnya bersumber dari hasil panen bersama, horti, pangan, ternak, buahan, dan ikan.

KEBUN YANG MENOLAK MENJADI TAMAN BIASA

Oleh : Majid Lintang 

Di sebidang tanah berbatu di pinggir Bandarlampung, seorang lelaki berambut putih memilih menua bersama tanaman. Ia tidak sedang membangun taman. Ia sedang merawat gagasan tentang masa depan pertanian Lampung.

Rambutnya telah lama memutih seluruhnya. Namun langkahnya masih cepat, tegap, dan nyaris tergesa. Tubuh tinggi besar itu bergerak dari bedengan ke bedengan, dari bibit ke kompos, dari satu rumpun tanaman ke rumpun lain. 

Di bawah matahari Lampung yang keras, Syamsurrizal Mukhtar tampak seperti orang yang belum selesai dengan pekerjaannya.

Usianya telah melewati setengah abad. 

Tetapi bagi banyak orang yang mengenalnya, ia tetap “Kak Ijal”—aktivis pencinta alam, pekerja sosial, pengelana lapangan, dan orang yang selalu percaya bahwa tanah, jika diperlakukan dengan benar, akan membalas dengan kehidupan.

Lelaki kelahiran Gunung Dempo, Pagar Alam, Sumatera Selatan, tahun 1957 itu bukan nama baru di dunia gerakan lingkungan Lampung. 

Separuh lebih hidupnya dihabiskan di alam terbuka dan tengah masyarakat. 

Ia pernah memimpin Watala, organisasi mahasiswa pencinta alam Universitas Lampung, pada awal 1980-an. 

Setelah itu, jejaknya tersebar di banyak tempat: lembaga swadaya masyarakat, program konservasi, pengembangan masyarakat, hingga kawasan penyangga hutan.

Namun pada masa ketika banyak orang seusianya mulai mencari kenyamanan, Syamsurrizal justru memilih tantangan baru: membangun Horti Park Lampung.
Tanah Berbatu, Mimpi yang Keras Kepala

Lokasinya di Desa Sabah Balau, Lampung Selatan, tak jauh dari kawasan Sukarame, Bandarlampung. Lahan seluas 7,72 hektare itu mula-mula bukan tempat yang menjanjikan. 

Batu berserakan. Unsur hara minim. Tanah keras. Banyak orang mungkin hanya melihat sebidang lahan yang sulit ditanami.

Syamsurrizal melihat kemungkinan.

Sejak akhir 2014, ia bersama tim kecil mulai mengolah lahan itu. Tanpa banyak seremoni, tanpa dana operasional yang longgar, mereka mencangkul, membuat bedengan, mengangkut pupuk kandang, menebar mulsa, meracik pestisida alami, lalu mencoba menanam.


Sebagian gagal.

Ia tak menyebutnya kegagalan. “Sukses yang tertunda,” begitu kira-kira cara berpikirnya.

Kalimat sederhana itu menjelaskan banyak hal: lelaki ini bukan tipe yang mudah mundur.

Dari Buruh Lepas Menjadi Penjaga Kebun

Tim yang bekerja bersamanya bukan kumpulan tenaga profesional pertanian modern. Sebagian berasal dari buruh lepas perkebunan yang terbiasa bekerja berdasarkan instruksi harian. Di Horti Park, pola itu harus diubah.

Mereka diminta menjadi pengelola sekaligus pekerja. Setiap orang bertanggung jawab atas lahannya sendiri: mulai dari mengolah tanah, menanam, merawat, hingga memanen.

Bagi Syamsurrizal, perubahan terbesar bukan pada lahan, melainkan pada cara berpikir manusia yang mengerjakannya.

“Saya setahun mengubah cara berpikir tim,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar singkat, tetapi memuat pekerjaan yang jauh lebih berat daripada memindahkan batu.


Kebun yang Mengajarkan Banyak Hal

Hari ini, Horti Park bukan lagi hamparan tanah keras. Ia menjelma ruang hijau yang hidup. Ada buah-buahan, sayur-mayur, bunga, dan tanaman obat. Ada jalur jalan kaki, rumah bayang, bangsal panen, ruang penyimpanan, dan sudut-sudut belajar.

Mahasiswa datang untuk praktik lapangan. Pelajar berkunjung untuk mengenal tanaman. Warga menikmati pengalaman memetik hasil kebun secara langsung.

Tempat itu tidak dirancang semata untuk menjual hasil panen. Ia dirancang untuk menghubungkan manusia dengan proses tumbuh.

Di zaman ketika makanan datang dalam plastik dan rak pendingin, Horti Park mengingatkan bahwa sebutir tomat punya sejarah panjang: tanah, air, panas matahari, tangan petani, dan kesabaran.

Menolak Logika Untung Cepat

Syamsurrizal paham betul soal hitung-hitungan ekonomi. Ia tahu, jika tujuan hanya laba, lahan seluas itu bisa ditanami komoditas tunggal yang sedang laku di pasar: singkong, jagung, atau tanaman musiman lain.

Tetapi ia menolak jalan pintas itu.

Baginya, kebun ini harus memelihara keanekaragaman. Ada fungsi pendidikan, penelitian, konservasi benih, wisata, pemberdayaan masyarakat, hingga pemasaran hasil tani.

Di tengah dunia yang mengukur segala sesuatu dengan keuntungan tercepat, ia memilih manfaat jangka panjang.

Itulah jenis keputusan yang sering tampak tidak populer pada awalnya, tetapi penting bagi masa depan.


Pedagang dengan Motor Roda Tiga

Kebutuhan operasional tetap harus dipenuhi. Maka Syamsurrizal tak segan turun menjual hasil panen sendiri. Dengan motor roda tiga, ia membawa sayuran dan buah ke berbagai titik: Lapangan Korpri, kantor dinas, pasar tani.

Pemandangan itu mungkin terasa ganjil bagi sebagian orang: seorang tokoh senior lingkungan, sarjana pertanian, pernah bekerja di banyak lembaga besar, kini berjualan hasil kebun sendiri.

Tetapi justru di situlah letak konsistensinya. Ia tidak terlalu sibuk menjaga gengsi.

Ia tahu, idealisme yang tidak mau berkotor-kotor tangan biasanya hanya berakhir sebagai pidato.

Sembilan Mimpi

Syamsurrizal menyebut Horti Park memiliki banyak misi: kebun percontohan, budidaya ramah lingkungan, penangkaran benih unggul, pemberdayaan kelembagaan, pasar tani, pendidikan, penelitian, wisata, dan pelestarian lingkungan.

Bagi orang lain, daftar itu mungkin terdengar ambisius.

Bagi dirinya, itu sekadar pekerjaan rumah.

Ia bahkan membuka ruang bagi siapa saja yang ingin ikut menanam, menjadi orang tua asuh pohon buah, atau terlibat dalam pengembangan kebun.

Karena ia paham satu hal: gagasan besar tidak bisa ditanggung sendirian.

Orang-Orang yang Masih Dibutuhkan Negeri Ini

Ada jenis manusia yang bekerja bukan untuk sorotan, bukan pula untuk jabatan. Mereka lebih suka terlihat sibuk di lapangan ketimbang hadir di panggung.

Syamsurrizal Mukhtar tampaknya termasuk golongan itu.

Di saat banyak orang mengejar kekuasaan, ia memilih menanam cabai. Ketika yang lain sibuk membangun citra, ia membangun kompos. Saat orang ramai memperdebatkan kesejahteraan petani dari ruang berpendingin udara, ia menjajakan hasil kebun dengan motor roda tiga.

Mungkin negeri ini memang masih membutuhkan lebih banyak orang seperti dirinya: yang percaya keberhasilan bukan semata soal harta atau kuasa, melainkan seberapa langsung manfaat yang bisa dirasakan orang lain.

Di Horti Park Lampung, seorang lelaki berambut putih sedang membuktikan itu—setiap hari, diam-diam, dari akar ke daun.***

#taniituindah

Kamis, 17 Oktober 2024

BAPAK DAN IBU

Ayahanda saya HAJI AHMAD MUKHTAR MAJID adalah seorang Veteran Pejuang Kemerdekaan R.I dengan NPV : 600.4.355 ( Gol. A ),dan Pensiunan Pegawai Negeri Sipil. Beliau dilahirkan di Dusun Talangpadang, Kecamatan Tebing tinggi Kabupaten Empat Lawang ( dahulunya masih dalam Kabupaten Lahat ) pada tanggal 10 Oktober 1928.

Disaat masih mengikuti kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gajahmada, pada tanggal 21 Mei 1955 Bapak menikah dengan Ibu Hj. SUHANA binti H. ABDUL WAHID ( yang lebih dikenal dengan panggilan TEMU ) di Jambat bale – Pagaralam. Setelah itu, Ibu ikut Bapak meneruskan kuliah ke Yogyakarta.

Putri pertama lahir di Kota Gudeg tersebut pada tanggal 16 April 1956 dan diberi nama Marlina Maleha Aprilia Safitri. Pada awal tahun 1957 Ibunda Temu mulai merasakan adanya kehamilan anak kedua, dan hal ini diperkirakan akan menambah kesibukan Keluarga, yaitu kuliah sambil mengasuh. Akhirnya, Bapak dan Ibu pulang kampung dan bekerja di Perkebunan Teh Gunung Dempo. Disini aku Syamsurrizal dilahirkan, pada hari Sabtu Tanggal 14 September 1957 jam 4.30 saat subuh. Mungkin karena waktu lahir itulah saya dinamakan Syamsurrizal, diambil dari bahasa arab ; syamsu yang berarti matahari / cahaya dan rizal yang berarti laki-laki.

Semasa di Gunung Dempo, lahir pula dua adik laki-laki saya, yaitu Muhammad Zainuddin ( meninggal di Palembang tahun 1966 ) dan Adinda Muhammad Budiman yang lahir tanggal 8 Nopember 1960.

Berikutnya, anak kelima adalah Adinda Muhammad Hamzah ( Anca ) yang lahir di Tanjungkarang – Lampung, kemudian Adinda Julian Ishak ( dipanggil Aan ) yang lahir di Palembang, 3 Juli 1967, dan terakhir sibungsu Marliana Mahida ( Ida ) lahir di Palembang 2 Mei 1969.

Diusia 78 tahun Ayahanda H.A. Mukhtar Majid wafat di Palembang, tepatnya pada hari Sabtu 9 Desember 2006 dan dimakamkan pada hari itu juga di Makam Pahlawan Kesetra Siguntang. Duapuluh hari kemudian, dua hari menjelang Idul Adha, pada hari Jum’at Jam 11.30 tanggal 29 Desember 2006, Ibunda Hj. Suhana Temu Wahid juga berpulang dipanggil oleh Allah S.W.T. Ibunda dimakamkan di TPU Kebun Bunga KM 9 Palembang.

Allahummaghfir lahum warhamhum wa’aafihim wa’fuanhum, Allahumma akrim nuzuulahum wawassi’ madkholahum. “ Ya Allah ampunilah segala dosa mereka baik yang besar maupun yang kecil, baik yang mereka sengaja atau yang tidak disangaja, baik yang nyata maupun yang ghoib.
Ya Allah, berikanlah rahmat kepada mereka yang sesempurna-sempurnanya meliputi segala hal. Ya Allah sejahterakan mereka dan maafkanlah segala kesalahan dan kealfahan dan kekhliafan mereka pada waktu hidup mereka.
Ya Allah , muliakan tempat kembali mereka dan lapangkanlah kuburnya serta berilah cahaya yang terang benderang. Bersihkanlah diri mereka dengan air, dengan embun dan dengan salju dengan rakhmat dan kasih sayangmu. Robbana atina fidduniyah hasanah wa fil akhiroti hasanah waqiina azaban naar. Wal hamdulillahi robbil ‘alamamiin. Amiin

Kami tujuh bersaudara ada yang dilahirkan di Yogyakarta, di perkebunan teh Gunung Dempo, di Tanjungkarang dan Palembang. Hal ini terkait dengan riwayat pekerjaan Ayahanda H.A. Mukhtar Majid. Setelah putus kuliah dari Yogyakarta, tahun 1957 Bapak bekerja
sebagai Pegawai Perusahaan Perkebunan Belanda, dan Karyawan Perusahaan Perkebunan Negara ( PPN, sekarang PTP ) yang berpindah-pindah unit kebun, dari sebagai Hulp Employe Pabrik Teh, dan Employe / Sinder Kebun Teh Gunung Dempo, Sinder Kebun PNP di Way Berulu, Gedong tataan , Kepala Kantor Pemasaran PNP di Telukbetung – Lampung, dan di Remilling Karet Musi / Hok Tong – Palembang. Pada tahun 1968, diusia empatpuluh tahun, Bapak menjadi Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) karena terpilih dan menjabat Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Lahat sampai tahun 1972. Setelah itu bekerja di Kantor Gubernur Sumatera Selatan, dan Pensiun pada tahun 1984 di Palembang. Karena ada penyempitan pembuluh darah jantung, pada tahun 1989 Ayahanda H.A. Mukhtar Majid berhasil mengalami operasi jantung koroner di RS Harapan Kita, Jakarta. Sungguh kami sangat bersyukur, Alhamdulillah, Ayahanda telah diberi ”bonus umur” selama 17 tahun.

Selasa, 12 Januari 2010

SELAMATKAN KAWASAN SEKITAR BATUTEGI


SELAMATKAN KAWASAN SEKITAR BATUTEGI
melalui Pembangunan Ekowisata Terpadu


Banyak contoh di Indonesia, Bendungan-bendungan yang telah dibangun mengalami pendangkalan yang lebih cepat sebagai akibat tidak dikendalikannya aktivitas pembangunan, Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan yang menyebabkan erosi yang berlebihan di kawasan / daerah tangkapan air bendungan. Akhirnya, Masa manfaat maksimal bendungan lebih pendek dari yang semula direncanakan.

Sejak dini haruslah dilakukan upaya-upaya nyata untuk menyelamatkan Bendungan Batutegi. Salah satu Persoalan dasarnya adalah Bagaimana penyelamatan ini dilaksanakan dengan pendekatan Kawasan ( yang utuh ), dan bukan Sektoral ; Pekerjaan Umum dan Kehutanan (BP.DAS), karena status tanah sekitar bendungan dan status hutan lindung.

Oleh karena itu, dipandang perlu untuk mengelola kawasan sekitar batutegi melalui Pembangunan yang terpadu. Maksudnya, tidak sebatas koordinasi dan koordinasi, serta terpadunya sekedar di atas meja rapat.

Salah satu tujuan dan manfaat dari Bendungan Batutegi adalah untuk Pariwisata. Untuk itulah, digagas suatu model pendekatan dari aspek konservasi ( yaitu perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan yang terkendali ), Pariwisata dan Pendidikan, yaitu dengan PEMBANGUNAN EKOWISATA TERPADU.

Yang dimaksud dengan Ekowisata terpadu itu :
1. Menyelamatkan Hutan dan Air, serta ekosistemnya
2. Membangun pariwisata yang berwawasan lingkungan hidup dan alam
3. Pendidikan Konservasi Alam dan Lingkungan Hidup

STRATEGI Utama dalam Konservasi Hutan Kawasan Batutegi adalah :

Memulihkan dan Membangun Hutan dengan menanam Sepuluh juta pohon dalam Sepuluh ribu hektar di Kawasan Konservasi Bendungan Batutegi – Lampung yang dikelola secara terpadu.

Pemanfaatan Kawasan Hutan Konservasi Batutegi, :

1. Membangun kembali hutan Alam dan ekosistemnya ( arboretum ) ;
yaitu areal koleksi contoh hidup berbagai jenis pohon, pelestarian jenis pohon secara
ex-situ, tempat praktek pengenalan jenis pohon, sumber benih dalam jumlah terbatas,
sekaligus sebagai tempat wisata ilmiah.

2. Kebun Raya ( Kumpulan / Koleksi Tanaman dan wisata taman )

3. Taman Safari ( Taman Satwa )

4. Pusat Pelatihan dan Pendidikan Konservasi Alam dan Lingkungan Hidup

5. Taman Bunga dan Buah

6. Wisata Air dan Pengembangan Perikanan ( Keramba jaring apung ),

7. Penginapan alam ( ecolodge ) ; berupa pondok, rumah pohon ( tree-house ), dan rumah rakit
( terapung ).

ECOLODGE itu secara sederhana diartikan sebuah penginapan bernuansa alami yang membawa
misi pengetahuan dan pendidikan lingkungan atau konservasi alam.
( Silahkan lihat tulisan terdahulu tentang Ecolodge )



Kesemua blok pemanfaatan ( tujuh blok pemanfaatan ) akan dirancang dalam satu master-plan, dan dikelola oleh satu unit pelaksana, yaitu Badan Pengelola Ekowisata Batutegi ( semacam Badan Otorita Daerah ) berupa Perusahaan BUMD dan atau Komite Pariwisata Lampung, serta Lembaga Swadaya Masyarakat.


Kamis, 26 Maret 2009

ECOLODGE atau PENGINAPAN ALAM

Kisaran dan inti pembicaraan tentang ECOLODGE di Lampung ini beranjak dari :


Keprihatinan ditengah gencarnya ”demam” kunjungan wisata, khususnya di Lampung, yang nyatanya hanya berupa acara-acara seremonial, tetapi terbatas akan sarana akomodasi, layanan dan transportasi , serta operator yang mendekatkan wisatawan ke lokasi-lokasi atraksi / obyek wisata.


Salah satu potensi wisata Lampung adalah Wisata Alam ( Ekosystem TNBBS dan TNWK, Bahari, dan Ekosystem Hutan Rawa ) yang belum banyak tersentuh dan belum layak ”jual” karena keterbatasan tadi. Misalnya untuk menjawab pertanyaan ; Kalo ada wisatawan yang ingin mengunjungi, melihat dan bermalam dalam suasana alami di lokasi-lokasi wisata tersebut, apakah sudah ada dan tersedia ?



Berandai saat ini datang wisatawan ke Lampung, dan bertanya ” Apakah ada paket wisata untuk tiga hari dua malam yang bisa saya beli ?” Apakah itu Paket wisata bahari, wisata budaya, wisata alam, agro-wisata ? dengan berbagai atraksi dan atau obyeknya.
Jawabnya tentu TIDAK ADA. Pusat informasi wisata lampung paling-paling hanya menyediakan informasi jenis obyek wisata dengan berbagai gambar / photo yang menarik, lokasi, daftar hotel dan daftar penyedia Tour and Travel. Selebihnya tentu jawabannya SILAHKAN JALAN SENDIRI. Mudah-mudahan ini sekadar keterbatasan informasi yang saya miliki, atau mungkin promosinya saja yang kurang.



Dari potensi Alam dan pangsa pasar, serta berlandaskan pemikiran “konservasionis” dan romantisme LSM, Muncul gagasan dan keinginan bersama untuk segera memulai membangun penginapan alam atau ecolodge di tiga lokasi utama ( dulu ? ) sebagai sentra untuk pengembangan lebih lanjut, yaitu di :
Pekon Sedayu Tanggamus ( sisi Timur TNBBS di Jalan Lintas Barat Sumatera ),
Pekon Sumber rejo – Way Heni Lampung Barat ( sisi Barat TNBBS ), dan Rawa Pacing Kabupaten Tulang Bawang ( Ecosytem Hutan Rawa di Jalan Lintas Timur Sumatera )



Berbagi peran dan segera dalam tahap awal ini adalah mencari tanah atau lahan sebagai titik lokasi awal ( tapak mula ) untuk “berinvestasi” di tiga rencana tapak dimaksud.



Apa itu Ecolodge atau Penginapan Alam ?


Dari pengalaman mensosialisasikan gagasan ecolodge ini di lapangan, banyak bias pengertian dari masyarakat. Ada yang beranggapan sama dengan Villa ( yang dalam benaknya sama dengan villa-villa yang ada di Puncak Bogor, Cipanas atau Ciater ) ataupun sama dengan Hotel ”berbintang” ( yang fisik bangunan-nya terlihat ”wah” dan megah, serta berkolam renang ).


Ecolodge itu secara sederhana diartikan sebuah penginapan bernuansa alami yang membawa misi pengetahuan dan pendidikan lingkungan atau konservasi alam.


Oleh karena itu, dalam pengelolaannya harus memenuhi beberapa syarat, yaitu :

1. View ( pemandangan ) dan suasana alam yang menarik

2. Tidak merubah tapak dan bentang alam secara berlebihan

3. Bangunan penginapan yang sederhana yang menyatu dengan alam dan selaras dengan budaya dan ekosistem setempat, bisa berupa pondok-pondok dan atau rumah pohon ( tree house ). Walaupun demikian, fasilitas sanitasi dan interiornya tetap harus memenuhi standar minimal kelayakan dan kepatutan. Istilah kerennya Pondok berbintang empat ( jenderal kali ? )

4. Tersedia Paket-paket pendidikan Konservasi alam, sehingga Customer penginap ( wisatawan ) dapat memilih diantara paket mana yang akan ”dibeli” dan lama bermalam. Jadi, tidak terima penginap yang sekedar untuk bermalam ataupun kemalaman.

5. Mempertahankan suasana alami,

· menghindari kebisingan; tanpa televisi ataupun radio, tanpa terdengar suara mesin listrik ( genset ),

· memperkaya tanam tumbuh dengan tanaman setempat

6. Bekerja sama dengan masyarakat setempat ( istilah para jagonya ; Community Based Management / Pengelolaan yang bertumpu pada peran masyarakat ), misalnya dengan mengembangkan tanaman sayuran organik, ternak kambing ( yang bisa dimanfaatkan susu dan biogas-nya ), dan perikanan.



( Proses ECOLODGE ini bermula dari obrolan bersama Bang Ans, Uda Af, Uda Al, Rozi, Martin dan Saya selama dua petang berturut-turut pada Kamis dan Jum’at tanggal 5 & 6 Februari 2009, paska kami jumpa saat berburu photo Gerhana Matahari Cincin di Bukit Camang, Senin 26 Januari 2009)



Betapa sulit mencari tapak Ecolodge ?

Minggu, 16 November 2008

Dokter Terpikat Bunga Desa !

H. Bambang Eka Wijaya

DOKTER muda tampan, tugas di puskesmas pembantu (pustu) pedalaman, terpikat pada bunga desa. Sudah tiga surat cinta dikirimnya lewat perawat perempuan sejawat kerjanya, tak satu pun dibalas.

Saat Bu Kepsek datang, pada orang yang sering membawa muridnya jika ada yang sakit berobat ke pustu itu, dokter menyampaikan masalah tersebut. "Nanti kutanyakan!" sambut Bu Kepsek.

Selepas jam sekolah Bu Kepsek mampir ke pustu. "Kata cewek itu, dia sudah menerima ketiga surat dokter, apa yang tersirat pun ia terima dengan senang hati!" ujar Bu Kepsek. "Ia memberikan ini, nomor hapenya! Ia berpesan, sampaikan isi hati dokter lewat SMS saja! Soalnya, dia tak bisa membaca tulisan tangan dokter!"

"Niat baik, meski disampaikan dalam tulisan yang tak terbaca pun tetap tersirat, ya Bu!" sambut dokter.

"Bahasa tulis seharusnya bisa mengurai hal-hal yang tak tersampaikan lewat lisan!" timpal Bu Kepsek. "Itu kalau isinya niat baik! Lain hal kalau berisi sebaliknya, bahasa tulis yang ruwet, kacau, sukar dibaca, justru dimaksud untuk menutupi isinya yang buruk itu!"

"Maksud Bu Kepsek?" kejar dokter.

"Niat buruk di balik 99% amburadulnya pengelolaan keuangan daerah di seluruh Tanah Air, ditutupi dengan laporan tertulis hingga DPRD yang bertugas mengontrol anggaran tak tahu persis ke mana saja sebenarnya dana mengalir!" jawab Bu Kepsek. "Tapi agar selalu dikira pintar, para anggota Dewan memberikan pengesahan asal ada kompensasinya--antara lain anggaran studi banding diloloskan!"

"Saya kurang paham soal-soal begitu, Bu!" sambut dokter. "Meski, satu hal mengganggu benakku! Kalau 99% pengelolaan keuangan daerah buruk, jelas bisa merupakan penyebab kemiskinan, kebodohan, dan penderitaan mayoritas rakyat di wilayah pedalaman bukan saja tak kunjung menurun, malah secara kualitatif cenderung justru memburuk!"

"Namun demikian jangan putus asa, Dokter!" tegas Bu Kepsek. "Usaha dokter membuat warga desa-desa sekitar pustu ini semakin sehat, terutama generasi mudanya, didukung kerja keras teman-teman guru meningkatkan daya dan kualitas nalar mereka, kita bisa berharap suatu hari kelak warga kawasan pedalaman ini bangkit berkat usaha, kemauan, dan kemampuan mereka sendiri! Bahkan sekalipun pemerintah tidur terus, atau tak henti menghabiskan anggaran negara hanya untuk kepentingan para pejabat daerah itu sendiri!"

"Hal seperti itu saya pernah baca dalam sistem laissez faire, tanpa tersentuh bantuan pemerintah pun perekonomian rakyat selalu ikut menyumbang angka pertumbuhan ekonomi secara signifikan!" timpal dokter. "Justru ketika ada regulasi pemerintah, angka pertumbuhan ekonomi mereka turun! Soalnya, rakyat malah bingung dengan ketentuan regulasi, membuat mereka begini salah begitu salah! Produktivitas jadi menurun, diikuti penurunan kesejahteraan mereka!"

"Bagaimana rakyat tak bingung jika harus terkait pengelolaan keuangan daerah yang amburadul!" tukas Bu Kepsek. "Apalagi kalau sengaja dibuat agar tak terbaca oleh rakyat, ada udang di balik regulasi bantuan itu!" *** BURAS Lampung Post, Minggu 16 Nopember 2008.

Selasa, 30 September 2008

Maaf LAHIR dan BATHIN

Andai semua harta adalah racun, maka Zakat-lah penawarnya, dan
jika seluruh umur adalah dosa, maka Taqwa dan Taubat-lah obatnya.
Jika seluruh hari adalah noda, maka hari-hari Ramadhan-lah pemulihnya.
Andai semua kata adalah dusta, maka Maaf dan Silahturahmi adalah Penggantinya.


MARHABAN IEDUL MUBAROK, TAQOBALALLAHU MINNA wa MINKUM,
Selamat Hari Raya, MOHON MAAF LAHIR dan BATHIN.

Salam Kami ;
Rizal, Nenny, Sunniva, Vania, Liza dan Yayan

Selasa, 15 Juli 2008

PEMBANGUNAN KOTA BANDAR LAMPUNG


oleh : haji arjo gembur

Pembangunan kota Bandar Lampung harus punya Master Plan yang jelas dan masyarakat harus di libatkan. Yang penulis akan soroti mengenai pembangunan lingkungan kota, dimana kota Bandar Lampung semakin hari semakin panas, dimana hutan kota banyak beralih fungsi, yang seharusnya hutan kota bertambah arealnya sesuai dengan pertambahan jumlah penduduk kota dan kendaraan yang menyebabkan polusi kota. Tetapi sayang Prilaku pemimpin setempat yang menjual aset masyarakat seperti lahan miring, bukit-bukit di dalam kota yang seharusnya ditanami pohon dan uangnya masuk kekantong masing-masing.

Saya tidak setuju kalau stadion Pahoman ditutup dan beralih fungsi dan penggantinya dibangunkan stadion di Kemiling. Menurut saya kalau mau membangun stadion yang baru di Kemiling itu bagus sekali, tetapi stadion di pohoman tetap ada karena stadion tersebut sebagai aset warga setempat yang harus tetap di lestarikan sebagai taman kota/paru-paru kota.

Coba kita kaji kembali tanah yang luas di Kemiling ( sekarang Perumnas Kemiling) itu asal-usulnya tanah Negara/masyarakat yang disewa Inggris. Setelah di kembalikan kepada kita dari Pemerintah Inggris, tanah tersebut jadi rebutan untuk mengusainya. Tetapi sekarang sudah dijual ke developer, dan dari developer kembali dijual ke masyarakat. Dari jual-beli tanah gratis tersebut uangnya kemana?

Dari tanah yang yang sangat luas tersebut tidak tersisa secuilpun untuk pembangunan lingkungan misalnya: hutan kota, Danau buatan sebagai pengendalian banjir dan serapan air untuk membantu pada musim kemarau yang masyarakat setempat pada kekurangan air.

Sekarang ini masyarakat diberi pohon untuk ditanam, tetapi kebanyakan masyarakat setempat tidak punya tempat/lahan untuk menanamnya, akhirnya di tanam di pinggir-pinggir jalan. Jalan yang sempit menjadi lebih sempit.

Perumahan dibangun dimana-mana di Bandar lampung, tetapi pihak developer tidak membangun sarana penujang seperti danau buatan, taman perumahan. Pihak developer berorientasi bisnis semata dan tidak membangun lingkungan dan merasa rugi kalau sebagian tanahnya untuk prasarana tersebut. Sehingga beberapa tahun yang akan datang perumahan di Bandar Lampung akan menjadi panas, dilanda banjir di waktu hujan, dan kekurangan air/kekeringan di musim kemarau.

Masalah Sumber Air.

Bandar Lampung dalam jangka panjang air bersih menjadi masalah utama. Karena kerusakan hutan di Gunung Betung sudah parah sebagai sumber air bersih. Maka suber air bersih sudah sangat berkurang. Untuk mengantisipasinya melalui Yth.Bapak Walikota Bandar Lampung (Bpk. Edi Sutrisno) atau Gubernur Lampung supaya menekan pihak pengembang perumahan supaya membuat danau buatan, di setiap beberapa lokasi dikomplek perumahan yang didirikan. Supaya sebagai tempat pengendalian banjir dan juga sebagai tempat serapan air untuk mehindari kekeringan paga musim kemarau. Luas danau seukuran lapangan sepak bola tetapi digali kira-kira 10 meter.

Masalah kemacetan kota

Tempat-tempat Bisnis dan Mall, Bank dan pusat perbelanjaan sebaiknya menyebar di sisi-sisi kota, misalnya Rajabasa, Kemiling dan Sukarame. tidak semuanya ada di pusat kota seperti sekarang ini.

Mengenai jalan sebaiknya kita tidak latah dengan jembatan layang yang seperti dikota-kota besar di Indonesia sekarang ini, maka akan menambah kumuh dan semerawut!! Yang paling tepat untuk Bandar Lampung karena medannya naik turun maka (by pass under way) akan lebih indah dan dapat mengurangi kemacetan misalnya dengan cara mendalami jalan yang ada sedalam 2 meter dan diratakan serta meluruskan badan-badan jalan dari depan rumah sakit bumi waras hingga terminal Raja Basa.

Obyek wisata Di Bandar Lampung

Lokasi Wisata Batu Putu sangat potensial dan strategis karena tidak jauh dari pusat kota dan mempunyai landscape yang indah. Mulai sekarang harus ditata ulang, baik infrastruktur jalannya maupun penempatan pemukiman penduduk. Dalam jangka panjang 5 sampai 20 tahun kedepan secara bertahap dan perencanaan yang matang lokasi tersebut dapat dijadikan Taman Safarinya Lampung. Dengan lokasi yang luas tersebut kita bisa mengembangkannya tidak seperti daerah-daerah lainnya yang hanya bisa mengembangkan kebun binatang. Mungkin kalau Pemda setempat terlalu berat dalam pengelolaannya berikan peluang kepada pemodal perorangan dan dikelola secara kapling misalnya dibagi 50 kapling, kapling pertama untuk binatang Gajah, selanjutnya burung onta, dan seterusnya. Seperti Taman Safari di Bogor.

Maut Menanti di Batu Putu - Bandar Lampung


oleh : haji arjo gembur

Angka kecelakaan kendaraan yang menuju Batu Putu pada musim liburan sekolah ini sangat tinggi. Pada awalnya mereka ingin menikmati liburan sekolah dengan pergi ke Lembah Hijau maupun ke Kebun Binatang (Taman Bumi Kedaton)

Namun infrastruktur jalannya sangat buruk, sementara animo masyarakat sangat tinggi. Kondisi jalan yang penuh dengan tebing-tebing terjal, jurang dan tanjakan yang tinggi.

Pada awalnya jalan tersebut dibuka oleh masyarakat setempat dengan menggunakan cangkul dan alat-alat sederhana. Selanjutnya oleh Pemda setempat jalan tersebut langsung di Aspal tanpa diperbaiki dengan alat-alat berat seperti Buldoser dan sebagainya, untuk memperbaiki tanjakan yang curam dan landai. Itulah nama pembangunan asal jadi.!!!!

Akibatnya sekarang ini angka kecelakaan menjadi tinggi. Pembangunan kalau asal jadi, kita menjadi rugi!!!! karena kita akan memanfaatkannya untuk selama-lamanya. Untuk itulah kami menghibau Pemda dengan promosinya wisata Lembah Hijau dan Kebun Binatang, tapi tolong juga perbaiki medan jalan menuju kesana!!!Kalau tidak diperbaiki maka angka kecelakaan menjadi sangat tinggi!!Mudah-mudah tidak terjadi pada salah satu anggota keluarga kita… Amin……

Kalau kita lihat semacam Bandung, Puncak Bogor, Lembang, dan jalan menuju Danau Toba di Sumatera Utara semua daerah tersebut curam dan terjal tapi dibuat berkelok-kelok disamping indah juga tidak terlalu membahayakan kendaraan. Padahal pada waktu itu Masih dibawah Penjajahan Belanda, yang alat-alat berat untuk membuka jalan masih terbatas. Tetapi kenyataannya Pembangunan infrasruktur dibawah pemerintahan Belanda lebih berwawasan lingkungan dan keselamatan pengguna jalan tersebut.

Sebetulnya lokasi Batu Putu sangat stratgis dan sangat berpotensi dengan landscape yang indah, mungkin alangkah baiknya menjadi primadonanya propnsi lampung jika mulai sekarang perrencanaan yang baik untuk jangka panjang 5 sampai 10 tahun kedepan dijadikan taman safarinya propinsi lampung. Yang dimulai dari sekarang dengan menata lokasi dan sedikit demi sedikit mengkoleksi binatang yang ada.

Selasa, 01 April 2008

Program Pendukung Pertanian Berkelanjutan

Sustainable Agriculture Support Program

Program ini digagas dalam rangka membangun kekuatan dan pengembangan petani kopi, yang mengarah pada pelaksanaan program 4C ( Common Code for the Coffee Community atau Rujukan Bersama untuk Masyarakat Perkopian ) sebagai upaya meningkatkan keberlanjutan ekonomi, sosial, dan ekologi, yang akan dimulai pada tahun 2007 ini.

Program Pendukung Pertanian Berkelanjutan ( P3B ) merupakan serangkaian kegiatan kemitraan para-pihak guna memperkuat petani kopi kelompok HKm ( Hutan Kemasyarakatan ) didalam meningkatkan produktivitas dan mengembangkan proses pengolahan hasil dan sistem tata niaga yang berorientasi pada mutu yang terpadu.

Strategi-strategi P3B :

  1. Memperkuat Pengelolaan Kelompok
  2. Peningkatan Produktivitas melalui Usaha tani yang ekologis
  3. Pengawasan mutu pada seluruh proses pengolahan
  4. Membangun perdagangan langsung kopi kelompok HKm dengan pembeli ( buyers ) di dalam negeri dan eksportir.

Capaian

P3B ini merupakan salah satu wujud nyata kepedulian dan tindak-lanjut atas Deklarasi Lampung tentang Kopi dan Konservasi yang telah dideklarasikan di Bandar Lampung pada hari Rabu tanggal 14 Maret 2007, oleh Para Pihak yang terkait dengan Konservasi Alam dan sejak itu pula dicapai beberapa hasil P3B, yaitu :

  1. 4.838 petani kopi dalam 62 kelompok dan 54 sub-kelompok HKm yang berada di sentra-sentra Kopi dihamparan lahan 10.643 hektar kebun kopi merupakan mitra potensial dalam P3B di 4 Kabupaten di Lampung, yaitu di Lampung Barat, Lampung Utara, Lampung Tengah dan Tanggamus
  2. Terbangunnya Kesepahaman para pihak tentang arti pentingnya membangun kekuatan dan pengembangan Kopi Lampung yang berkelanjutan dari Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Sektoral Kehutanan, Perkebunan dan Koperasi, Kelompok-kelompok Hkm, maupun Gabungan Kelompok HKm, Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat, Perguruan Tinggi, Pedagang Perantara / Pengumpul, dan Pembeli dalam negeri maupun Eksportir.
  3. Dalam Tahap awal ini, telah dicapai kesepahaman antara PT. Indo CafCo LAMPUNG ( ECOM Coffee Group ) dan P3B untuk menerima / membeli langsung kopi asalan dari kelompok HKm mitra, dan transparansi dalam pengujian mutu, serta penyampaian Harga Basis Harian.
Secara Kelembagaan P3B ini merupakan salah satu Unit Usaha Pengembangan Masyarakat dari Perusahaan PT. Sunia Buana Lestari , Development Consultant

Minggu, 30 Maret 2008

Filosofi LSM

ToT Manajemen LSM di Pusdiklat Bina Swadaya, Cimanggis-Bogor, 5 s.d. 21 April 1988. dari kiri ke kanan, duduk : abubakar, Yohana, Maxi, Isti, Chandra, Erna, Ichsan, Roy. Berdiri tengah : Limawan, Domi, Rizal, Pungky, Farid, Toto, Harimurti, Dewanto, Yazid, Zein, Bahruddin, Harmudya, suharto, yoseph. Berdiri belakang : Sapto, Heru Sukarsono, Deddy S, Agung, Margiyanto, Tono, Daniel, Wawan.


FILOSOFI LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT

Antara manusia satu dengan manusia lainnya, akan menunjukkan keragaman dalam sikap, tingkah laku, pemikiran, sikap hidup, dan pandangannya. Karena memang setiap manusia mempunyai pengalaman hidup, sejarah, lingkungan kehidupan yang tidak pernah seragam. Dalam proses sejarah, lingkungan, politik-ekonomi-sosial yang berbeda, manusia akan menunjukkan karakter ( sifat / watak yang khas ) yang berbeda pula. Sedang karakter ini sendiri pada prinsipnya adalah perwujudan dari filosofi atau pandangan hidup yang dimilikinya.

Berangkat dari keabsahan keragaman dalam pandangan hidup setiap orang, maka sudah barang tentu harus diakui adanya keragaman nilai hidup, corak atau keragaman premis ( alasan / dasar pikir ) di setiap orang. Dari ragam keberadaan premis ini, maka tentu saja jenis keperdulian setiap orang dalam aktualisasi dirinya atau aktualisasi filosofinya juga harus diterima keberadaannya secara syah.

Karena lembaga ( LPSM / LSM ) pada prinsipnya adalah alat untuk mencapai tujuan ( aktualisasi filosofinya ) dari sekelompok orang yang memilikinya, maka bukan tidak mungkin bahwa diantara lembaga yang satu dengan lainnya akan mempunyai filosofi yang berbeda. Seperti telah disebutkan di muka, bahwa pandangan hidup ( filosofi ) seseorang akan dipengaruhi faktor sejarah dan lingkungan poleksosbudnya. Demikian pula dengan Lembaga, Filosofi yang dimiliki oleh lembaga sangat tergantung dari sejarah yang pernah dilaluinya dan lingkungan poleksosbud dimana lembaga itu berada.

Kemudian, oleh karena keberadaan Lembaga pada hakekatnya adalah berupaya untuk ikut kontribusi dalam pengembangan dan pembangunan masyarakat, maka filosofi yang dimaksud disini adalah filosofi dalam kaitan Pengembangan dan Pembangunan.

Filosofi lembaga dalam Pengembangan dan Pembangunan Masyarakat diwujudkan dalam bentuk pendekatan yang digunakan untuk itu. Dan secara garis besar bentuk-bentuk pendekatan yang ada adalah sebagai berikut.

a. Sosio Karetatif yaitu suatu bentuk pendekatan dalam pengembangan masyarakat, yang didasari oleh kenyataan bahwa masyarakat adalah miskin, menderita, tidak mampu mecahkan masalahnya. Oleh karena masyarakat dirasa tak mampu menolong dirinya sendiri, maka mereka perlu ditolong, diberi sumbangan dan dikasihani.

b. Sosio Ekonomis yaitu suatu bentuk pendekatan dalam pengembangan masyarakat, yang didasarkan pada anggapan bahwa dari berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat, bila pendapatannya ditingkatkan atau bila kebutuhan ekonomisnya terpenuhi, maka persoalan yang lainnya dengan sendirinya akan terpecahkan.

c. Sosio Reformis Pendekatan yang satu ini lebih spesifik lagi, sebab biasanya dilakukan secara eksidental tanpa suatu tindak lanjut. Sedang maksud pendekatan ini adalah hanya sekedar untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Misalnya dilakukan pada masyarakat yang menderita bencana alam, bencana kelaparan, atau bencana-bencana yang lain.

d. Sosio Tranformis yaitu pendekatan yang mendasarkan diri, bahwa pengembangan dan pembangunan masyarakat pada dasarnya adalah upaya perubahan sikap, tingkah laku, pandangan dan budaya, yang mengarah pada self help dan self reliance, dalam mengenal masalahnya, merencanakan pemecahannya, melaksanakan dan megevaluasinya.

Bagi kita, keragaman filosofi yang dimiliki oleh LPSM-LSM, merupakan kekayaan nilai tersendiri. Artinya dengan keragaman ini justru menunjukkan betapa banyaknya masalah spesifik yang dihadapi masing-masing daerah dengan masyarakatnya.

Jadi, dari berbagai filosofi yang mendasari model pendekatan pengembangan masyarakat seperti telah disebut di atas tidak pernah ada yang satu lebih baik dari yang lain. Gayut dan tidak gayut atau strategis dan tidak strategis atau baik dan buruknya masing-masing pendekatan, hanya bisa diuji melalui kebenaran analisa situasinya atau masalah spesifiknya.

Kenyataan yang ada menunjukkan, tidak ada suatu lembaga yang benar dan murni hanya melakukan salah satu model pendekatan. Model pendekatan yang digunakan, umumnya merupakan pendekatan campuran. Hanya saja, setiap lembaga pasti mempunyai penekanan aspek tertentu.

Pemahaman atas situasi politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan-keamanan Indonesia bagi LPSM-LSM menjadi sangat dibutuhkan. Sebab hanya dengan pemahaman yang benarlah, pemilihan program pengembangan masyarakat, pemilihan pendekatan pengembangan masyarakat, bahkan strategi aktivitas lembaga akan menjadi “tepat”

Bahkan juga bukan hanya itu, melalui pemahaman situasi ini kita akan mampu merumuskan permasalahan masyarakat ( kemiskinan, penderitaan, keputus-asaan, fatalistik, pendidikan, kebudayaan ) secara benar dan utuh, yang pada gilirannya rumusan pemecahan masalahnya juga akan menjadi strategis.

( tulisan ini merupakan catatan awal pada saat mengikuti Pelatihan Manajemen LSM pada Tahun 1988 )


Sabtu, 29 Maret 2008

CASSIAVERA, si Kayu Manis

Bulan September 2007 yang lalu, bersama rekan Imam Heruwahyono dan rekan Eko Kuswanto kami merintis untuk memasok kebutuhan Kulit Kayu Manis bagi Pabrik-pabrik Jamu di daerah Pulau Jawa. Informasi tentang Kulit kayu manis berikut diperoleh Atas jasa baik rekan Deay ( Desrizal Alira ) di KKI WARSI – Jambi, yang telah berpengalaman dalam pendampingan konservasi kulit kayu manis Organik di sentra Cassiavera Kabupaten Kerinci.

Cassiavera merupakan nama ekonomi dari kulit manis , nama latin Cinnamomum Burmani L. hidup di daerah dataran tinggi ( 500 – 1100) Dpl, yang lebih di kenal di tingkat dunia adalah cassiavera kerinci ( koerinji ) nama bahasa inggrisnya Cinamon,

Klasifikasi dan Spesifikasi dari kulit kayu manis /cassiavera

1. KM ( Koerinji M )

Ciri-ciri : ketebalan kulit sampai 4 mm, dengan kadar minyak diperkirakan antara 3,5 – 4 % (setiap permintaan buyers ini diuji laboratorium / SNInya), pengikisan bersih , umumnya tanaman berumur di atas 17 tahun. Di produksi oleh petani dalam bentuk asalan. Warna lebih merah. Kekuatan produksi atau jual adalah sekitar 7.000 kg setiap bulannya

2. KF ( Koerinji F )

Ciri-ciri ketebalan sampai 3, 2 mm dengan perkiraan kada minyak sampai 3 % lebih, pengikisan bersih, umumnya tanaman berumur 15 tahun ke atas, diproduksi dalam bentuk asalan warna hampir sama dengan KM. kekuatan produksi sekitar 10.000 kg / bulan

3. KS ( koerinji S )

Ciri -ciri ketebalan sampai 2 – 2,5 mm dengan perkiraan kadar minyak sampai 2 % lebih, pengikisan bersih , umumnya tanaman berumur 10 tahun ke atas, diproduksi dalam bentuk asalan warna hampir sama dengan KM. kekuatan produksi sekitar 10.000 kg / bulan

4. KA ( koerinji A )

Ciri-ciri ketebalan sampai 1,5 - 2 mm dengan perkiraan kadar minyak sampai 1 , 2 % lebih, pengikisan bersih Hampir di semua umur tanaman ada , diproduksi dalam bentuk asalan warna hampirsama dengan KM. kekuatan produksi sekitar 8.000 kg / bulan

5. KB – C ( koerinji B – C )

Ciri-ciri ketebalan paling tipis dengan perkiraan kada minyak sampai kecil dari 1 % , pengkisan tidak begitu bersih umumnya ada pada seluruh tanaman diproduksi dalam bentuk asalan warna hampirsama dengan KM. kekuatan produksi sekitar 5.000 kg / bulan.

6. AA ( double A ) / A Stick

Ini merupakan kulit manis bentuk stick dengan gulungan lebih kurang sebesar pencil atau pena dengan bentuk gulungan, ada yang satu gulungan ada yang dua gulungan, dikikis bersih, di produksi dalam bentuk asalan atau panjangnya nya berkisar anatar 20 cm sampai 60 cm. Ini dari kualitas KA dan KS yang di produksi dalam bentuk Stick. Kapasitas produksi sekitar 10.000 kg / bulan.

Dari semua spesifikasi mutu di atas kadar air sampai ke gudang pembeli adalah sekitar 10 – 12 % yang di jual oleh petani. Petani menjual dalam bentuk asalan ( ukuran , bentuk, warna, dan kadar air yang beragam), untuk diekspor biasanya dalam bentuk powders ( bubuk ), dan broken ( pecahan ) sesuai dengan permintaan buyer. Kemasan dalam karung dengan berat dalam satu karung sekitar 60 sampai 90 kg.

Jumat, 28 Maret 2008

Apa Kata Mereka tentang Syamsurrizal ?

ORANG SUKSES JIKA BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN

( Warta Faperta Unila, Lampung ) Berawal dari kiprahnya sebagai mahasiswa yang aktif di UKM Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (WATALA) FP Unila (Sekarang LSM WATALA), selama kurun waktu 1980 – 1985-an, telah memberi andil besar menjadikan alumnus Fakultas Pertanian Unila yang satu ini lebih banyak berkecimpung di bidang pelestarian lingkungan, konservasi sumberdaya alam serta kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Syamsurrizal Mukhtar, saat ini menjabat Direktur PT. Sunia Buana Lestari, perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan dan pembangunan sosial ekonomi masyarakat, teknologi informasi dan pemetaan, serta lingkungan hidup, menganggap menjadi seorang direktur bukanlah ukuran sukses yang sesungguhnya. Selama perjalanan hidupnya, terdapat tiga sukses yang pernah ia rasakan, sukses pertama ialah ketika pada tahun 1987 bersama Ir. H. Bambang Irawan dan rekan-rekannya mengembangkan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Lampung, dari tidak ada menjadi ada, bahkan memiliki gedung sendiri sebagai kantor yang tetap. Sukses kedua, ketika pada 1995 ia bekerja pada World Wide Fund for Nature (WWF) sebagai project coordinator Bukit Tigapuluh di wilayah perbatasan Riau dan Jambi, berhasil meyakinkan Kementerian Kehutanan dan Perkebunan RI agar menetapkan dua kawasan hutan lindung di Propinsi Riau dan Jambi menjadi sebuah taman nasional yang kini dikenal sebagai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) seluas 127.000 ha. Dan sukses yang ketiga adalah ketika ia kini menjadi direktur di perusahaan sendiri sehingga ia tidak menjadi tergantung pada orang lain, tetapi justru dapat bermanfaat bagi orang banyak.

Syamsurrizal Mukhtar, dilahirkan di perkebunan teh Gunung Dempo di Pagaralam, 14 September 1957, lulus sebagai insinyur pertanian pada Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unila pada 1985. Selama menjadi mahasiswa FP, selain aktif sebagai asisten beberapa matakuliah seperti Pengantar Ilmu Ekonomi, Kimia Organik, Ekonomi Mikro dan Ekonomi pertanian, juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan UKM WATALA FP Unila. Pada periode kepengurusan 1981- 1983, pria berpostur tinggi besar tersebut menjabat sebagai wakil ketua, dan pada periode selanjutnya (1983 - 1985), ia dipercaya oleh rekan-rekannya untuk memimpin WATALA sebagai ketua. Bagi Syamsurrizal, UKM WATALA sangat berperan besar bagi perjalanan kariernya hingga seperti sekarang ini, untuk itu ia sangat menyesalkan ketika pemerintah pada awal tahun 90-an memberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan membentuk Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) yang melarang adanya organisasi minat dibawah naungan senat mahasiswa, sehingga UKM Watala dan sejenisnya harus dibubarkan, tetapi karena Watala telah memiliki akar yang kuat, ia dan rekan-rekannya tidak putus asa, selanjutnya merestrukturisasi UKM Watala (Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam) menjadi sebuah LSM yang tetap diberi nama Watala (Keluarga Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup) yang sampai kini masih berdiri.

Bagi Syamsurrizal, kehidupan seakan tak surut dari berbagai aktivitas. Selain berbagai aktivitas tersebut di atas, Syamsurrizal juga pernah aktif sebagai ketua Forum LSM (Sekretariat Jaringan Komunikasi LSM) Lampung tahun 1990 – 1994, Internal advissor LSM KKI ( Komunitas Konservasi Indonesia ) WARSI (Warung Informasi Konservasi) yang merupakan aliansi 14 LSM bidang konservasi sumberdaya alam se-Sumatera Bagian Tengah yang berpusat di Bangko-Jambi (1993 – sekarang), Anggota Penasehat Koalisi untuk Lampung Sehat (2001 – 2003), dan Sekretaris Pengurus daerah Tenaga Pembangunan Sriwijaya (TPS; eks Tentara Pelajar Sriwijaya) Propinsi Sumatera Selatan periode 2003 – 2008. Di bidang profesi, sebelum menjadi Direktur PT Sunia Buana Lestari saat ini, ia pernah bekerja pada PT Pedicinal Consultant di jakarta (mengerjakan survey wilayah pemukiman transmigrasi di Kal-tim, dan Timika Irian Jaya); Sebagai Konsultan/area coordinator Program Pengembangan Hubungan Bank dengan Kelompok Swadaya Masyarakat (PHBK) pada Bank Indonesia di Bandar Lampung; konsultan di PT. Wiratman & Associates untuk kegiatan AMDAL (tahun 1994 -1995); pernah juga bekerja untuk ICRAF (International Centre for Research in Agroforestry) dan PT. Tata Guna Patria (2001 -2002).

Sebagai alumni Fakultas Pertanian Unila, ia tentu tak lupa akan almamaternya, untuk itu ia sangat menyambut baik jika dibentuk sebuah wadah yang dapat menampung aspirasi dan peran para alumni, agar aspirasi dan peran alumni yang selama ini disampaikan secara individu dapat diakomodir dan dilaksanakan secara lebih optimal. Lembaga atau wadah inilah yang nantinya juga berperan sebagai pengumpul data dan informasi tentang alumni Fakultas Pertanian Unila, selanjutnya ia juga memandang perlu dibuat sebuah database tentang alumni ini secara tersendiri. Untuk itu, dalam jangka panjang perlu juga dibuat web khusus tentang alumni sebagai media informasi dan komunikasi bagi para alumni dimanapun tempatnya berada. Ia juga berpendapat, ada baiknya para mahasiswa di Fakultas Pertanian Unila ini dibekali dengan kemampuan yang berhubungan dengan Teknologi Informasi sebagai bekal seorang mahasiswa lulus nanti. Kepada adik-adik mahasiswa ia juga berpesan, agar terus belajar dan menguasai teknologi terutama teknologi informasi, dengan tetap berpegang pada iman dan taqwa, karena untuk menghadapi tantangan kedepan kedua hal itulah sebagai penentu utama. Selanjutnya ia berpesan bahwa orang sukses tidaklah dilihat dari kedudukan/jabatannya, tetapi bagaimana dengan kedudukan/jabatannya itu ia dapat bermanfaat bagi orang lain. (disunting dari WARTA FAPERTA, Media Komunikasi & Informasi Warga & Alumni Fakultas Pertanian UNILA, Edisi No. 3 / Tahun II / Desember 2005, Halaman 6)