Jumat, 28 Maret 2008

Apa Kata Mereka tentang Syamsurrizal ?

ORANG SUKSES JIKA BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN

( Warta Faperta Unila, Lampung ) Berawal dari kiprahnya sebagai mahasiswa yang aktif di UKM Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (WATALA) FP Unila (Sekarang LSM WATALA), selama kurun waktu 1980 – 1985-an, telah memberi andil besar menjadikan alumnus Fakultas Pertanian Unila yang satu ini lebih banyak berkecimpung di bidang pelestarian lingkungan, konservasi sumberdaya alam serta kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Syamsurrizal Mukhtar, saat ini menjabat Direktur PT. Sunia Buana Lestari, perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan dan pembangunan sosial ekonomi masyarakat, teknologi informasi dan pemetaan, serta lingkungan hidup, menganggap menjadi seorang direktur bukanlah ukuran sukses yang sesungguhnya. Selama perjalanan hidupnya, terdapat tiga sukses yang pernah ia rasakan, sukses pertama ialah ketika pada tahun 1987 bersama Ir. H. Bambang Irawan dan rekan-rekannya mengembangkan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Lampung, dari tidak ada menjadi ada, bahkan memiliki gedung sendiri sebagai kantor yang tetap. Sukses kedua, ketika pada 1995 ia bekerja pada World Wide Fund for Nature (WWF) sebagai project coordinator Bukit Tigapuluh di wilayah perbatasan Riau dan Jambi, berhasil meyakinkan Kementerian Kehutanan dan Perkebunan RI agar menetapkan dua kawasan hutan lindung di Propinsi Riau dan Jambi menjadi sebuah taman nasional yang kini dikenal sebagai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) seluas 127.000 ha. Dan sukses yang ketiga adalah ketika ia kini menjadi direktur di perusahaan sendiri sehingga ia tidak menjadi tergantung pada orang lain, tetapi justru dapat bermanfaat bagi orang banyak.

Syamsurrizal Mukhtar, dilahirkan di perkebunan teh Gunung Dempo di Pagaralam, 14 September 1957, lulus sebagai insinyur pertanian pada Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unila pada 1985. Selama menjadi mahasiswa FP, selain aktif sebagai asisten beberapa matakuliah seperti Pengantar Ilmu Ekonomi, Kimia Organik, Ekonomi Mikro dan Ekonomi pertanian, juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan UKM WATALA FP Unila. Pada periode kepengurusan 1981- 1983, pria berpostur tinggi besar tersebut menjabat sebagai wakil ketua, dan pada periode selanjutnya (1983 - 1985), ia dipercaya oleh rekan-rekannya untuk memimpin WATALA sebagai ketua. Bagi Syamsurrizal, UKM WATALA sangat berperan besar bagi perjalanan kariernya hingga seperti sekarang ini, untuk itu ia sangat menyesalkan ketika pemerintah pada awal tahun 90-an memberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan membentuk Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) yang melarang adanya organisasi minat dibawah naungan senat mahasiswa, sehingga UKM Watala dan sejenisnya harus dibubarkan, tetapi karena Watala telah memiliki akar yang kuat, ia dan rekan-rekannya tidak putus asa, selanjutnya merestrukturisasi UKM Watala (Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam) menjadi sebuah LSM yang tetap diberi nama Watala (Keluarga Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup) yang sampai kini masih berdiri.

Bagi Syamsurrizal, kehidupan seakan tak surut dari berbagai aktivitas. Selain berbagai aktivitas tersebut di atas, Syamsurrizal juga pernah aktif sebagai ketua Forum LSM (Sekretariat Jaringan Komunikasi LSM) Lampung tahun 1990 – 1994, Internal advissor LSM KKI ( Komunitas Konservasi Indonesia ) WARSI (Warung Informasi Konservasi) yang merupakan aliansi 14 LSM bidang konservasi sumberdaya alam se-Sumatera Bagian Tengah yang berpusat di Bangko-Jambi (1993 – sekarang), Anggota Penasehat Koalisi untuk Lampung Sehat (2001 – 2003), dan Sekretaris Pengurus daerah Tenaga Pembangunan Sriwijaya (TPS; eks Tentara Pelajar Sriwijaya) Propinsi Sumatera Selatan periode 2003 – 2008. Di bidang profesi, sebelum menjadi Direktur PT Sunia Buana Lestari saat ini, ia pernah bekerja pada PT Pedicinal Consultant di jakarta (mengerjakan survey wilayah pemukiman transmigrasi di Kal-tim, dan Timika Irian Jaya); Sebagai Konsultan/area coordinator Program Pengembangan Hubungan Bank dengan Kelompok Swadaya Masyarakat (PHBK) pada Bank Indonesia di Bandar Lampung; konsultan di PT. Wiratman & Associates untuk kegiatan AMDAL (tahun 1994 -1995); pernah juga bekerja untuk ICRAF (International Centre for Research in Agroforestry) dan PT. Tata Guna Patria (2001 -2002).

Sebagai alumni Fakultas Pertanian Unila, ia tentu tak lupa akan almamaternya, untuk itu ia sangat menyambut baik jika dibentuk sebuah wadah yang dapat menampung aspirasi dan peran para alumni, agar aspirasi dan peran alumni yang selama ini disampaikan secara individu dapat diakomodir dan dilaksanakan secara lebih optimal. Lembaga atau wadah inilah yang nantinya juga berperan sebagai pengumpul data dan informasi tentang alumni Fakultas Pertanian Unila, selanjutnya ia juga memandang perlu dibuat sebuah database tentang alumni ini secara tersendiri. Untuk itu, dalam jangka panjang perlu juga dibuat web khusus tentang alumni sebagai media informasi dan komunikasi bagi para alumni dimanapun tempatnya berada. Ia juga berpendapat, ada baiknya para mahasiswa di Fakultas Pertanian Unila ini dibekali dengan kemampuan yang berhubungan dengan Teknologi Informasi sebagai bekal seorang mahasiswa lulus nanti. Kepada adik-adik mahasiswa ia juga berpesan, agar terus belajar dan menguasai teknologi terutama teknologi informasi, dengan tetap berpegang pada iman dan taqwa, karena untuk menghadapi tantangan kedepan kedua hal itulah sebagai penentu utama. Selanjutnya ia berpesan bahwa orang sukses tidaklah dilihat dari kedudukan/jabatannya, tetapi bagaimana dengan kedudukan/jabatannya itu ia dapat bermanfaat bagi orang lain. (disunting dari WARTA FAPERTA, Media Komunikasi & Informasi Warga & Alumni Fakultas Pertanian UNILA, Edisi No. 3 / Tahun II / Desember 2005, Halaman 6)

Tidak ada komentar: